
KOTA BATU, SMAN 2 BATU- Luar biasa! Setelah menunggu 3 bulan lamanya, akhirnya SMAN 2 Batu panen kompos dari Project Membumi Ecoliving green campaign, Kamis (30/10/25) di depan panggung budaya sekolah setempat. Selain di SMAN 2 Batu, pemanenan serupa juga telah dilakukan di SMKN 1 Batu, SMPN 3 Batu, SMAN 1 Batu, dan SMA Immanuel, SMAK Yos Sudarso.
Adiwiyata Rama Candra, local youth volunteer dari ecoliving community Indonesia mengungkapkan, proses pembuatan kompos ini membutuhkan waktu sekitar tiga bulan lamanya. Dari 2 tong tempat pembuatan kompos, rata-rata bisa menghasilkan 80 kg per tong atau 160 kg untuk 2 tong. Berdasarkan pemantauan di lapangan, kompos-kompos yang sudah dipanen tersebut selanjutnya dikemas ke dalam wadah plastik dengan berat rata-rata 3 kg.
Diakui Rama, salah satu kendala yang terjadi saat proses komposting, yakni masih adanya kompos yang menggumpal sehingga perlu waktu satu bulan lagi untuk panen. “Ya, memang masih ada yang menggumpal. Itu diakibatkan karena selama proses komposting berlangsung tidak dilakukan proses pembolak balikan bahan. Saat ini kami sudah menambahkan tanah dan diperkirakan sekitar tuga minggu lagi bisa dipanen,” ungkapnya.
Sementara itu, Koordinator Adiwiyata SMAN 2 Batu, Wiwik Sugiarti, M.Pd. mengungkapkan, kompos hasil panen tersebut akan dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman yang akan dikelola oleh Kader Adiwiyata Pokja Penanaman. “Ya, nanti kompos-kompos itu akan kita manfaatkan sebagai pupuk tanaman yang dikoordinir oleh Pokja Penanaman dari Kader Adiwiyata,” ujar Wiwik Sugiarti.
Sekadar diketahui, Ecoliving Community Indonesia meluncurkan Project Membumi di SMAN 2 Batu dengan menghadirkan 10 youth volunteer dari berbagai negara ASEAN, seperti Vietnam, Malaysia, Laos, Kamboja, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Myanmar, Filipina, serta Indonesia, Rabu (30/7/2025).
Agenda tersebut bertujuan mengedukasi 1.000 siswa tentang pengelolaan sampah organik menjadi produk bermanfaat seperti eco enzym dan kompos.
Sekolah yang tergabung dalam program ini mencakup SMAN 1 dan 2 Batu, SMA Immanuel, SMK Yos Sudarso, SMKN 1 Batu, SMPN 1 dan 3 Batu, serta MTSN Batu. Selama dua minggu pelatihan, ditargetkan mampu mengolah 2 ton sampah organik.
“Di Kota Batu, sampah organik berasal tidak hanya dari rumah tangga, tapi juga pertanian. Kami ingin siswa bisa mengubah sampah ini menjadi eco enzym dan kompos,” kata Founder Ecoliving, Ni Wayan Atik Sarmila Dewi.
Sebelumnya, Ecoliving telah menggelar pertemuan dengan pengelola TPST 3R se-Kota Batu untuk membahas persoalan yang masih dihadapi dalam pengelolaan sampah.

Ni Wayan menambahkan, tujuan utama kegiatan ini adalah membentuk pemahaman siswa agar dapat menerapkan pengolahan sampah tidak hanya di sekolah, namun juga di lingkungan keluarga masing-masing.
Kepala SMAN 2 Batu, Wartono, mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai langkah penting dalam membentuk kesadaran lingkungan generasi muda.
“Kegiatan ini sangat positif karena mengubah pola pikir siswa tentang mencintai lingkungan, baik di sekolah maupun di rumah,” tuturnya. (pewarta: Agus Salimullah)
